Ada apa Kekasihku
Tak perlu mencucurkan air mata itu saat ini
Tak usah takut pada jarak
Jarak itu hanya sebuah kata menyesat
Yang dipenuhi angka seperti tujuh, delapan, dan sembilan
Dan selalu berubah dan terubah
Tapi di mezbah itu hanya ada perasaanku untukmu
--tak berubah dan tak terubah
Aku ingin bermuka dengan kekasihku
Yaitu kamu
Tak ada kekasih lain melainkan kamu yang ingin aku cintai
Jarak yang kausebutsebut tadi hanyalah mencobaiku
Tapi cinta ini tak goyah
Meski ketujuh malapetaka di depan retina
Jurang di depan kita ini cuma ilusi
Kabut yang menutupinya hanya efek Holywood
Tak perlu berteriak seperti itu
Kita ini dekat Kekasihku
Bahkan untuk sekedar mendapat kecupanmu
Lihat saja senyum di wajahku ini
Kau akan melihatnya tanpa penghalang di matamu
Benar bukan
Andaikan memang waktu yang menghalang
Itu juga bukanlah apaapa
--Jadi jangan cucurkan airmata itu lagi
Karena pengorbanan kita akan diberi upah
Dengan diberikan waktu yang banyak untuk pertemuan
Tahunnya lebih dari tiga
Juga lebih dari tujuh, delapan, dan sembilan
Jangan takut dengan jarak lagi
Takkan keluar binatang bertanduk sepuluh dan berkepala tujuh
Tak ada pula angka tujuh-delapan-sembilan di dahiku
Karena hati kita sudah berikatan
Dalam perjanjian baru dan perjanjian terakhir
Tersenyumlah Kekasihku
Karena malaikat bersayap enam ratus itu datang padamu
Dia akan memberikan tahu kepadamu
Bahwa belah hatiku padamu dan belah hatimu padaku
Dan Zulkarnain telah menyegel para iblis di gunung itu
Jadi hati kita tetap utuh tak ternoda
Tak berubah karena jarak lagi tak berkarat karena masa
070809
This entry was posted on 22:25 and is filed under
2009 Poems
. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.




0 comments: