Ratapan bangsabangsa masih mengalun
Mencari arti dari kebenaran yang disebutsebut para imam
Namun hanya kedustaan yang mereka temukan
Lalu seperti tiangtiang kuil yang roboh bersama Zeus
Angin pun memberitakannya dengan keriangan
Suara harpa masih mengalun di tengah filharmoni
Senarsenarnya menguduskan pengharapan besar
Begitu semangatnya hingga langit pun tak mengawani
Keindahan menanti kebenaran sejati
Lalu kita berdua di sini berada di atas batu yang berbeda
Entah mana yang lebih kokoh
Air sungai yang mengalir tak mampu menghanyutkan kita
Cinta kitalah yang menguatkan keberadaan kita
Mereka berkata batu ini akan membawa ke surga
Benar. Batu yang dipijaki kita ini!
Batu yang berada di tengah aliran air berwarna gelap
Kita berdiri di atasnya bersama kebenaran yang berbeda
Namun aku tak tahu mana batu yang lebih kokoh
Alunan pujian para Kerubim terdengar dari atas
Aku tahu mereka menyemangati kita
Katanya kepada kita: "Ya Allah, berilah mereka keimanan
Berilah mereka akal budi yang teruji
Janganlah mereka mengimani para penyesat itu
Yaitu penyesat yang menjanji surga dusta
Berjalanlah kepada mereka dan bimbinglah mereka
Biarkan mereka bersama kami dengan kekudusan
Untuk selalu memuji namaMu yang Mahakudus
Juga kebenaran dari kebenaran
Bukan kebenaran dari kedustaan
Sesungguhnya Engkau Mahakasih bagi semesta alam!"
Sungguh batubatu ini kebanyakan tak kokoh
Banyak yang akan hanyut ke dalam maut
Sebelum air yang melegakan menggantikan
Namun tak ada waktu lagi untuk hanya percaya
Tak ada waktu lagi untuk merasa kasihan
Kita harus memakai akal budi!
Kita harus mencari Allah!
Aku ingin berada bersamamu di surga itu
Yang mengalir di dalamnya sungaisungai
Yang berlimpahan pandangan yang membahagiakan
Kita pun bisa memandang Allah dalam sebenarnya
Dan betapa merdunya suara para malaikat kudus itu!
Tidakkah kaumenginginkan segenapnya?
Aku bermain di taman Eden itu bersamamu
Tanpa peduli semesta yang berubah kosong
Kita lebih bergembira dari Adam dan Hawa
Kita mengasihi dan mengenal Allah bersama
Bukankah itu sangat indah!
Maka kini batu itu harus kita uji
Kokohkah dia; kalau tidak, jahatlah dia
Dan kita harus tak perlu meratapi lagi
Karena kita telah mengenal Juruselamat itu
Roh yang dinantikan pun telah berwujud
Menuntun kita untuk tetap berdiri di atas batu
Bersama kebenaran dari kebenaran
Segala jika kita mau melihat dengan akal budi
Bukan dengan iman tanpa pengertian
Maka maukah kau berjuang bersamaku?
Tak usah pedulikan gagak yang tak mau kembali
Karena merpati telah mendamaikan kita
Dan harpa yang tadi terdengar masih melagukan penantian
Yaitu penantian akan surga yang benar
Maka janganlah kau mau hanyut oleh sungai
Kuasa si jahat hanya membawa maut
Surga yang dikatakannya hanya dusta
Biarlah dia bersumpah dalam Tuhan
Akal budilah yang bisa menolong kita
Lalu menjadikan surga tempat akhir kita
Dan tempat persekutuan hati kita berdua
Dan tempat senyumku menjadi sepenuhnya untukmu
Dan tempat kebahagiaan tanpa rintik kesedihan
Di tengah ratapan runtuh kuil dan Zeus yang bisu itu
Aku terus berharap pada Allah
Agar kita bertemu di surga yang benar
Dan asa itu menjadi tangisan untukku malam ini
Karena aku ingin kebahagiaan untuk kita
Aku ingin surga untuk kita
221009
This entry was posted on 22:59 and is filed under
2009 Poems
. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.




0 comments: