Semakin menyempit waktu
Menjadi nyatalah apa yang telah dinubuatkan
Dan siapa ada menggugat
Jika kenyataan semakin terbuka dalam nyata?
Oh mungkin orang bebal saja yang mau bertahan
Padahal mimpi bukan lagi hanya pengharapan
Bahkan semakin keraguanku menyusut
Hanya hidup yang kekal yang terus membuai
Dan waktu bukan lagi banyak
Tapi hitungan hanya tinggal delapan
Dan sejarah akan tertutup tanah kembali
Lalu selamanya hilang setelah guncangan
Aku lihat banyak yang datang
Mengetuk pintu setelah melihat aku tersenyum
Tapi mereka terlalu sibuk
Kemuliaan merangkak naik di atas Kedustaan
Dan Kedustaan semakin dekat ajalnya
Waktu terhitung mundur dari kini
Tidak, tidak.. Dari dua ribu tahun lalu
Dari seribu empat ratus tahun lalu
Memang sulit menentukan tepatnya
Tapi kita memang sudah berada di dalamnya
Satu demi satu dikurung dosa maut
Tapi yang lain justru memakai kasut!
Aku menunggu kesaksian itu
Dari roh dan air dan darah di surga
Juga di bumi
Lalu aku akan tahu peta kehidupanku nanti
Aku harus siap!
Aku harus melayani dari kini!
Keyakinanku semakin teguh
Mitosmitos itu melayu sudah
Dustadusta itu mengering terus
Jadi siapa yang mau ikut?
Jangan, jangan! Ikuti perintah itu saja
Tapi jangan lupa gunakan akal budimu
Sambil menunggu Fitnah Besar tiba
Aku perlahan tak lagi menyarungkan pedangku
Dia tak tahu kalau aku siap
Tak tahu aku juga takkan mati
Karena aku sudah dikuatkan dan ditahbiskan
Untuk menghancurkan semua kekejian
Hitungan mundur masih berjalan
Tandatanda itu terus dibacakan
Orang yang tak bisa membaca mendapat hikmat
Dan orang yang berdosa ingin selamat
Aku pikir bukan sesuatu yang mustahil
Karena hari yang dinantikan belum sampai
111009
This entry was posted on 23:02 and is filed under
2009 Poems
. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.




0 comments: