untuk Kawanku Ardi yang pergi terlalu cepat
Cepat sekali larimu Kawan!
Padahal aku mau kau perlahan saja
Beriringan bersama kami di sini
Menghadapi payahnya masa depan
Dengan api membara untuk menciptakan asa
Juga bangga di hati orang tua kita.
Ah, makan pun lebih gembul dari kami
Makanya kau gembul memakan masa
Dan lenyap di tengah kedukaan
Meninggalkan isak tangis di antara kami
Membuang mimpimu yang ingin kausimpan di langit!
Kenapa? KENAPA!
Kau mau lari dari Ujian Nasional?
Atau apa?!
Lihat, lihat.. Mamamu menangis malam ini
Menjerit.. Seolah kau masih mau mendengar;
Dia ingin menemani tidurmu
Cemas karena sakit kepala hebatmu yang mendadak
Bukan cuma mamamu, Kawan.
Lihat papamu yang bangga menyimpan asanya padamu!
Lihat juga mama-papaku..
Lihat kakek-nenekmu..
Lihat kerabat-kerabatmu..
Lihat teman-temanmu..
Juga Firly.. Indra.. Cindy.. Ega..
Semua menangis dengan dada sarat kesesakan
Menjerit hanya untuk melihatmu tersenyum lagi
--Berharap kau tak lari cepatcepat
Mencampakkan kami dalam derita hidup.
Sudah sampai di mana kau Kawan?
Kau hilang dari pandangan kami
Apa yang Izrail beri sehingga kau mau ikut bersama dia?!
Apa dia memberikanmu Black Berry?
Apa yang Izrail beri sehingga kau mau ikut bersama dia?!
Ah, aku tak mengerti dengan kejadian hari ini
Dan aku tak mengerti bagaimana Allah bekerja!
Tengah malam yang membuat keluargaku guncang
Dan menjaga tidur di tengah insomniaku.
Aku tak tahu harus berbuat apa
Tapi aku terhalang untuk mengucapkan salam terakhir;
Sungguh aku memohon maaf padamu Kawan!
Aku hanya bisa bertanyatanya
Dan berdoa untuk keselamatanmu di sana
--Nanti aku pasti kirimkan kembang yang mungkin kau suka
Damai sejahtera dan rahmat Allah bagimu
Yang kini di sisi Tuhanmu, Ciptha Ardi Rusdiana!
250210
This entry was posted on 23:54 and is filed under
2010 Poems
. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.




0 comments: