Yang Terhormat Bapak Susilo Bambang Yudhoyono dan Bapak Boediono,
Sudah setahun Bapak-Bapak duduk di atas singasana yang paling megah di jagat Nusantara ini. Kelihatannya Bapak-Bapak menikmatinya seperti menikmati mie instan. Kami, anak-anak Indonesia yang Bapak-Bapak pimpin sejak pelantikan tahun 2009 lalu, menulis kegundahan ini di warung kopi sambil mengomentari tontonan yang memperlihatkan kawankawan mahasiswa yang sedang unjuk gigi di jalanan kota-kota besar bersama para aparat yang gagah perkasa. Mereka semua menyebut nama Bapak berdua dengan wajah yang dibuat lebih serius daripada wajah para anggota Dewan yang terhormat ketika tengah bersidang. Lalu sebagian dari mereka bermain pukulpukulan bersama para aparat keamanan setelah melubangi ozon dengan membakar ban-ban bekas, menghabiskan uang negara dengan menghancurkan mobil berplat merah yang dibeli rakyat, dan menyulitkan perputaran uang dengan memacetkan arus lalulintas di jalanjalan Kota Hujan. Sebagian sudah Bapak-Bapak prediksi dengan membuat karikatur sindiran itu ya? Tapi, walau begitu, apa Bapak-Bapak juga turut merasakan keluhkesah dan derita mereka di balik amarah yang kekanakkanakkan para demonstran dan teriakan parau para orator yang suaranya hampir tak terdengar karena terbatasnya kekuatan megapon yang dibawa?
Turunlah dari singasana yang terlalu empuk itu dan menapaklah ke tanah sejenak lalu dengarlah suara hati kami yang, orang bilang, sebenarnya hanya Tuhan yang Mahamengetahui isi hati. Catat kritik mereka di atas kertas putih tanpa coretan kepentingan partaipartai berbau busuk. Turunkan trisula yang Bapak Presiden pegang agar tidak ada banjir bandang lagi yang menghanyutkan kepercayaan rakyat kepada Bapak-Bapak. Bukalah dulu headset dari telinga yang memperdengarkan suara-suara kaum elitis dan kapitalis agar terdengar suara anak kami yang menangis kelaparan karena kami tak mampu membeli makanan dan minuman bergizi dengan upah kerja yang tidak ada.
Telinga kami masih bisa mendengar dengan jelas janji-janji yang Bapak-Bapak sampaikan di Gelora Bung Karno, Senayan, itu. Berdengungdengung, menanti tiupan angin kesungguhan dari Bapak-Bapak yang bisa membantu kami yang miskin sedikit terlepas dari jerat kesengsaraan yang menimpa kami di tengah tawa anak-anak orang kaya yang tidak pernah mau merasakan penderitaan kami kecuali sedikit--melalui program di televisi swasta atau acara-acara tertentu.
Kami tidak akan meminta agar Bapak-Bapak turun dari singasana yang jauh lebih empuk daripada kursi reyot di ruang tamu kami meski kami merasa kami telah ditipu mentah-mentah oleh Bapak berdua dan para pembantu Bapak-Bapak yang munafik. Bagi kami pemakzulan, penggantian rezim, dan pemilihan ulang hanya buang-buang uang dan waktu yang sebenarnya uang dan waktu kami. Kami akan semakin jauh dari kata sejahtera! Mereka yang menderita karena bencana Wasior nanti malah lebih menderita karena uang untuk mengobati anak-anak mereka yang sakit semakin terkikis, lagi--dipotong "jatah" pejabat daerah dan dikurangi oleh biaya pemilihan umum. Jangan, jangan buat kami tambah menderita!
Kami tidak terlalu peduli soal kasus hukum Bank Century yang ramai dibicarakan orang. Kami tidak mengerti soal hukum sama sekali. Kami sudah sadar, itu hanya sebuah drama yang lebih membosankan daripada sinetron-sinetron negara kita hanya tidak berkembang dan hanya bisa menjiplak drama luar yang popular. Begitu juga dongeng kepahlawanan polisi dalam mengentaskan terorisme. Atau isi rekening gendut di kepolisian. Atau video kekerasan para aparat atas para aktivis pembela demokrasi. Atas drama kepepimpinan dan kriminalitas para pejabat Komisi Pemberantasan Korupsi yang mengklaim membela rakyat. Berkat perkembangan jaringan informasi--walaupun mahal dan sering mengalami gangguan seperti listrik yang sering sekali mati sampai merusak alat-alat elektronik masyarakat yang dipakai untuk mengeruk sesuap nasi, orang-orang warung kopi ini semakin mengerti apa itu konspirasi. Kami memang ketakutan, dan kami memang selalu ketakutan karena drama apapun yang dipertontonkan, pasti akan selalu berdampak bagi kami--terutama yang jelek-jeleknya!
Yang penting bagi kami adalah bahwa Bapak-Bapak menjalankan program kerja Bapak-Bapak dengan baik. Kami tidak ingin dijajah oleh para pemimpin kami sendiri. Seperti kawanan kerbau yang dicocok hidungnya oleh kerbau-kerbau yang berevolusi. Ah, perumpamaan yang buruk! Tapi, yang jelas, Bapak Presiden, kami merasa kabinet Anda sekarang jauh lebih hancur. Kinerja mereka yang Bapak Presiden angkat atas pertimbangan politis itu tak jauh berbeda dengan sampah yang menyumbat sungaisungai. Tidakkah Bapak-Bapak menyadari bahwa keputusan keliru dalam memilih para pembantu Bapak-Bapak akan menjadi bencana bagi rakyat yang Bapak berdua pimpin? Tidakkah Bapak-Bapak menyadari bahwa keputusan keliru mengikuti rayuan partaipartai busuk itu akan merusak citra Bapak-Bapak berdua di mata bangsa?
Kami sangat butuh makan--sama seperti orang-orang kaya! Kami butuh tempat tinggal seperti orang-orang kaya! Jangan memarginalkan kami atau mengusir kami dari gubukgubuk kami dengan bengis dengan tangan para aparat yang sok jago itu. Kami tak bisa membeli tanah yang mahal seperti orangtua dari mereka yang selalu mencerca anak-anak kami di sekolah. Kami berharap kami diberi rumah yang layak seperti yang Bapak-Bapak janjikan dahulu. Atau kami akan secara tidak sadar merusak infrastruktur dan fasilitas umum karena kami harus tinggal di kolongkolong jembatan. Kami mohon jangan hanya memberi tempat tinggal orangorang di wilayah perkotaan. Kami yang di perbatasan pun membutuhkan pembangunan!
Kami mungkin kurang ilmu dan kurang kreativas sehingga sulit mendapat pekerjaan walau sebagian dari kami adalah sarjana. Tapi setidaknya beri kami kemudahan dalam pekerjaan. Mungkin Bapak-Bapak bisa mengklaim bahwa pertumbuhan ekonomi naik, atau kemiskinan berkurang, pengangguran menyusut. Tapi kenyataannya, kami makin sulit mencari pekerjaan! Sedikit sekali yang kosong! Walaupun ada, keahlian yang dibutuhkan tak sesuai dengan kami! Bapak-Bapak juga bisa bilang sektor pendidikan lebih baik. Tapi kenyataannya, anakanak kami masih belajar di kolong rumah panggung bersama guru yang gajinya paspasan. Atau berasrama di pondok pesantren yang hampir rubuh karena kehabisan anggaran.
Bapak-Bapak yang cerdas pasti tahu bahwa Indonesia ini negara kaya. Kita bisa swasembada beras, daging sapi, garam, atau pangan lain. Itu juga yang Bapak-Bapak janjikan setahun lalu dengan penuh kharisma. Tapi, apa yang terjadi sekarang? Belum ada hasil yang memuaskan sama sekali. Bahkan, di tengah cuaca ekstrem yang puncaknya 2012-2013 nanti, kita yang punya laut yang kaya malah kekurangan pasokan garam dan harus mengimpor dari luar! Ah, sangat memalukan. Akibatnya, semakin banyak orang yang sakit karena kekurangan gizi dan tidak bisa sembuh karena biaya pengobatan yang mahal. Buatlah dengan tegas kebijakan yang tidak menyulitkan kami, kaum miskin, ini. Buatlah dengan tegas kebijakan yang tidak ditunggangi kepentingan politik. Wujudkan dengan tegas ketahanan pangan seperti yang Bapak-Bapak janjikan dahulu!
Sebenarnya kami tidak mau banyak menuntut karena kami tahu itu tidak semudah membalikkan telapak tangan bagi Bapak-Bapak untuk mewujudkannya. Banyak faktor yang dibutuhkan. Tapi, bagaimanapun, Bapak-Bapak sudah telanjur berjanji. kepada kami Bahkan bersumpah! Karena itu kami menagih utang Bapak-Bapak. Kami tidak ingin kami diteror oleh Bapak-Bapak karena Bapak-Bapak tidak bisa membayar utang, dan rasa aman pun hilang dari hati kami.
Birokrasi di negeri ini pun telalu rumit. Terlalu banyak uang yang harus kami keluarkan untuk mengikuti labirin birokrasi bahkan sebelum kami memulai usaha. Lalu sebagian dari kami , terutama yang berbeda agama atau suku, terkadang merasakan adanya tindakan diskriminatif. Belum mendapat sepeser uang sudah diminta dulu. Bagaimana kami bisa sejahtera? Yang ada sebagian dari kami malah membalas kecurangan itu dan menimpakannya kepada orang lain. Ah, semoga kami terjaga dari hal keji seperti itu.
Tolong jangan bungkam kami yang menginginkan kebebasan kami. Kami memiliki hak asasi yang harus dihormati orang lain, termasuk pemerintah dan aparatnya. Jangan karena pemikiran kami berlawanan dengan pemerintah karena kami menginginkan kesejahteraan, lantas kami dihina dan dibuang dan dilecehkan begitu saja dengan menyebut nama bangsa. Tolong perhatikan kami seperti Bapak-Bapak butuh perhatian rakyat.
Kami tahu bahwa Bapak-Bapak sangat mementingkan citra politik di hadapan kaum elitis yang berkuasa. Sikap Bapak Presiden selalu hatihati agar tidak dicemooh mereka yang menurut Bapak "penting" bagi kemajuan karier Bapak--atau kekuasaan Bapak (?). Trisula Bapak Presiden hanya Bapak arahkan kepada para ikan tuna yang Bapak pelihara, tapi tidak pernah Bapak arahkan kepada para dewa Olimpus lain. Sekalikali jangan! Bapak-Bapak pasti tahu bahwa kepemimpinan adalah sebuah amanat. Tolong jangan amanat itu. Tolong jaga citra Bapak-Bapak di mata rakyat--bukan di mata para munafik!
Sekian saja kegundahan hati yang bisa kami sampaikan di hari bersejarah ini. Semoga dengan kesediaan Bapak-Bapak mendengar keluhan rakyat dan kritik dari para lawan bisa menjadi catatan untuk mereformasi kebijakan Bapak-Bapak dalam memperjuangkan nasib rakyat. Dengan begitu, nama Indonesia semakin terhormat di negeri sendiri dan di dunia internasional. Tidak hanya nampak baik dari luar. Demi rakyat dan bangsa, jangan sampai kepentingan partai-partai berbau busuk yang mengendalikan parlemen untuk kepentingan pribadi lebih diutamakan daripada kepentingan bangsa ini demi mempertahankan citra Bapak-Bapak. Pilihlah para pembantu yang baik kinerjanya dan sesuai keahliannya, bukan karena dipilih secara politis oleh partai-partai berbau busuk.
Mari kita bekerja lebih keras agar empat tahun ke depan menjadi kebangkitan baru bagi bangsa Indonesia, menuju Indonesia maju! Lanjutkan!
201010
Sudah setahun Bapak-Bapak duduk di atas singasana yang paling megah di jagat Nusantara ini. Kelihatannya Bapak-Bapak menikmatinya seperti menikmati mie instan. Kami, anak-anak Indonesia yang Bapak-Bapak pimpin sejak pelantikan tahun 2009 lalu, menulis kegundahan ini di warung kopi sambil mengomentari tontonan yang memperlihatkan kawankawan mahasiswa yang sedang unjuk gigi di jalanan kota-kota besar bersama para aparat yang gagah perkasa. Mereka semua menyebut nama Bapak berdua dengan wajah yang dibuat lebih serius daripada wajah para anggota Dewan yang terhormat ketika tengah bersidang. Lalu sebagian dari mereka bermain pukulpukulan bersama para aparat keamanan setelah melubangi ozon dengan membakar ban-ban bekas, menghabiskan uang negara dengan menghancurkan mobil berplat merah yang dibeli rakyat, dan menyulitkan perputaran uang dengan memacetkan arus lalulintas di jalanjalan Kota Hujan. Sebagian sudah Bapak-Bapak prediksi dengan membuat karikatur sindiran itu ya? Tapi, walau begitu, apa Bapak-Bapak juga turut merasakan keluhkesah dan derita mereka di balik amarah yang kekanakkanakkan para demonstran dan teriakan parau para orator yang suaranya hampir tak terdengar karena terbatasnya kekuatan megapon yang dibawa?
Turunlah dari singasana yang terlalu empuk itu dan menapaklah ke tanah sejenak lalu dengarlah suara hati kami yang, orang bilang, sebenarnya hanya Tuhan yang Mahamengetahui isi hati. Catat kritik mereka di atas kertas putih tanpa coretan kepentingan partaipartai berbau busuk. Turunkan trisula yang Bapak Presiden pegang agar tidak ada banjir bandang lagi yang menghanyutkan kepercayaan rakyat kepada Bapak-Bapak. Bukalah dulu headset dari telinga yang memperdengarkan suara-suara kaum elitis dan kapitalis agar terdengar suara anak kami yang menangis kelaparan karena kami tak mampu membeli makanan dan minuman bergizi dengan upah kerja yang tidak ada.
Telinga kami masih bisa mendengar dengan jelas janji-janji yang Bapak-Bapak sampaikan di Gelora Bung Karno, Senayan, itu. Berdengungdengung, menanti tiupan angin kesungguhan dari Bapak-Bapak yang bisa membantu kami yang miskin sedikit terlepas dari jerat kesengsaraan yang menimpa kami di tengah tawa anak-anak orang kaya yang tidak pernah mau merasakan penderitaan kami kecuali sedikit--melalui program di televisi swasta atau acara-acara tertentu.
Kami tidak akan meminta agar Bapak-Bapak turun dari singasana yang jauh lebih empuk daripada kursi reyot di ruang tamu kami meski kami merasa kami telah ditipu mentah-mentah oleh Bapak berdua dan para pembantu Bapak-Bapak yang munafik. Bagi kami pemakzulan, penggantian rezim, dan pemilihan ulang hanya buang-buang uang dan waktu yang sebenarnya uang dan waktu kami. Kami akan semakin jauh dari kata sejahtera! Mereka yang menderita karena bencana Wasior nanti malah lebih menderita karena uang untuk mengobati anak-anak mereka yang sakit semakin terkikis, lagi--dipotong "jatah" pejabat daerah dan dikurangi oleh biaya pemilihan umum. Jangan, jangan buat kami tambah menderita!
Kami tidak terlalu peduli soal kasus hukum Bank Century yang ramai dibicarakan orang. Kami tidak mengerti soal hukum sama sekali. Kami sudah sadar, itu hanya sebuah drama yang lebih membosankan daripada sinetron-sinetron negara kita hanya tidak berkembang dan hanya bisa menjiplak drama luar yang popular. Begitu juga dongeng kepahlawanan polisi dalam mengentaskan terorisme. Atau isi rekening gendut di kepolisian. Atau video kekerasan para aparat atas para aktivis pembela demokrasi. Atas drama kepepimpinan dan kriminalitas para pejabat Komisi Pemberantasan Korupsi yang mengklaim membela rakyat. Berkat perkembangan jaringan informasi--walaupun mahal dan sering mengalami gangguan seperti listrik yang sering sekali mati sampai merusak alat-alat elektronik masyarakat yang dipakai untuk mengeruk sesuap nasi, orang-orang warung kopi ini semakin mengerti apa itu konspirasi. Kami memang ketakutan, dan kami memang selalu ketakutan karena drama apapun yang dipertontonkan, pasti akan selalu berdampak bagi kami--terutama yang jelek-jeleknya!
Yang penting bagi kami adalah bahwa Bapak-Bapak menjalankan program kerja Bapak-Bapak dengan baik. Kami tidak ingin dijajah oleh para pemimpin kami sendiri. Seperti kawanan kerbau yang dicocok hidungnya oleh kerbau-kerbau yang berevolusi. Ah, perumpamaan yang buruk! Tapi, yang jelas, Bapak Presiden, kami merasa kabinet Anda sekarang jauh lebih hancur. Kinerja mereka yang Bapak Presiden angkat atas pertimbangan politis itu tak jauh berbeda dengan sampah yang menyumbat sungaisungai. Tidakkah Bapak-Bapak menyadari bahwa keputusan keliru dalam memilih para pembantu Bapak-Bapak akan menjadi bencana bagi rakyat yang Bapak berdua pimpin? Tidakkah Bapak-Bapak menyadari bahwa keputusan keliru mengikuti rayuan partaipartai busuk itu akan merusak citra Bapak-Bapak berdua di mata bangsa?
Kami sangat butuh makan--sama seperti orang-orang kaya! Kami butuh tempat tinggal seperti orang-orang kaya! Jangan memarginalkan kami atau mengusir kami dari gubukgubuk kami dengan bengis dengan tangan para aparat yang sok jago itu. Kami tak bisa membeli tanah yang mahal seperti orangtua dari mereka yang selalu mencerca anak-anak kami di sekolah. Kami berharap kami diberi rumah yang layak seperti yang Bapak-Bapak janjikan dahulu. Atau kami akan secara tidak sadar merusak infrastruktur dan fasilitas umum karena kami harus tinggal di kolongkolong jembatan. Kami mohon jangan hanya memberi tempat tinggal orangorang di wilayah perkotaan. Kami yang di perbatasan pun membutuhkan pembangunan!
Kami mungkin kurang ilmu dan kurang kreativas sehingga sulit mendapat pekerjaan walau sebagian dari kami adalah sarjana. Tapi setidaknya beri kami kemudahan dalam pekerjaan. Mungkin Bapak-Bapak bisa mengklaim bahwa pertumbuhan ekonomi naik, atau kemiskinan berkurang, pengangguran menyusut. Tapi kenyataannya, kami makin sulit mencari pekerjaan! Sedikit sekali yang kosong! Walaupun ada, keahlian yang dibutuhkan tak sesuai dengan kami! Bapak-Bapak juga bisa bilang sektor pendidikan lebih baik. Tapi kenyataannya, anakanak kami masih belajar di kolong rumah panggung bersama guru yang gajinya paspasan. Atau berasrama di pondok pesantren yang hampir rubuh karena kehabisan anggaran.
Bapak-Bapak yang cerdas pasti tahu bahwa Indonesia ini negara kaya. Kita bisa swasembada beras, daging sapi, garam, atau pangan lain. Itu juga yang Bapak-Bapak janjikan setahun lalu dengan penuh kharisma. Tapi, apa yang terjadi sekarang? Belum ada hasil yang memuaskan sama sekali. Bahkan, di tengah cuaca ekstrem yang puncaknya 2012-2013 nanti, kita yang punya laut yang kaya malah kekurangan pasokan garam dan harus mengimpor dari luar! Ah, sangat memalukan. Akibatnya, semakin banyak orang yang sakit karena kekurangan gizi dan tidak bisa sembuh karena biaya pengobatan yang mahal. Buatlah dengan tegas kebijakan yang tidak menyulitkan kami, kaum miskin, ini. Buatlah dengan tegas kebijakan yang tidak ditunggangi kepentingan politik. Wujudkan dengan tegas ketahanan pangan seperti yang Bapak-Bapak janjikan dahulu!
Sebenarnya kami tidak mau banyak menuntut karena kami tahu itu tidak semudah membalikkan telapak tangan bagi Bapak-Bapak untuk mewujudkannya. Banyak faktor yang dibutuhkan. Tapi, bagaimanapun, Bapak-Bapak sudah telanjur berjanji. kepada kami Bahkan bersumpah! Karena itu kami menagih utang Bapak-Bapak. Kami tidak ingin kami diteror oleh Bapak-Bapak karena Bapak-Bapak tidak bisa membayar utang, dan rasa aman pun hilang dari hati kami.
Birokrasi di negeri ini pun telalu rumit. Terlalu banyak uang yang harus kami keluarkan untuk mengikuti labirin birokrasi bahkan sebelum kami memulai usaha. Lalu sebagian dari kami , terutama yang berbeda agama atau suku, terkadang merasakan adanya tindakan diskriminatif. Belum mendapat sepeser uang sudah diminta dulu. Bagaimana kami bisa sejahtera? Yang ada sebagian dari kami malah membalas kecurangan itu dan menimpakannya kepada orang lain. Ah, semoga kami terjaga dari hal keji seperti itu.
Tolong jangan bungkam kami yang menginginkan kebebasan kami. Kami memiliki hak asasi yang harus dihormati orang lain, termasuk pemerintah dan aparatnya. Jangan karena pemikiran kami berlawanan dengan pemerintah karena kami menginginkan kesejahteraan, lantas kami dihina dan dibuang dan dilecehkan begitu saja dengan menyebut nama bangsa. Tolong perhatikan kami seperti Bapak-Bapak butuh perhatian rakyat.
Kami tahu bahwa Bapak-Bapak sangat mementingkan citra politik di hadapan kaum elitis yang berkuasa. Sikap Bapak Presiden selalu hatihati agar tidak dicemooh mereka yang menurut Bapak "penting" bagi kemajuan karier Bapak--atau kekuasaan Bapak (?). Trisula Bapak Presiden hanya Bapak arahkan kepada para ikan tuna yang Bapak pelihara, tapi tidak pernah Bapak arahkan kepada para dewa Olimpus lain. Sekalikali jangan! Bapak-Bapak pasti tahu bahwa kepemimpinan adalah sebuah amanat. Tolong jangan amanat itu. Tolong jaga citra Bapak-Bapak di mata rakyat--bukan di mata para munafik!
Sekian saja kegundahan hati yang bisa kami sampaikan di hari bersejarah ini. Semoga dengan kesediaan Bapak-Bapak mendengar keluhan rakyat dan kritik dari para lawan bisa menjadi catatan untuk mereformasi kebijakan Bapak-Bapak dalam memperjuangkan nasib rakyat. Dengan begitu, nama Indonesia semakin terhormat di negeri sendiri dan di dunia internasional. Tidak hanya nampak baik dari luar. Demi rakyat dan bangsa, jangan sampai kepentingan partai-partai berbau busuk yang mengendalikan parlemen untuk kepentingan pribadi lebih diutamakan daripada kepentingan bangsa ini demi mempertahankan citra Bapak-Bapak. Pilihlah para pembantu yang baik kinerjanya dan sesuai keahliannya, bukan karena dipilih secara politis oleh partai-partai berbau busuk.
Mari kita bekerja lebih keras agar empat tahun ke depan menjadi kebangkitan baru bagi bangsa Indonesia, menuju Indonesia maju! Lanjutkan!
201010




0 comments: