Penat merongrong tubuh.
Jiwa berjelaga tiada terbasuh.
Apa aku harus menimba air keruh?
Lantas mengguyurkan ke muka lusuh?
Nikmat nian ini sakit penyakit.
Tak tertahankan: ingin menjerit!
Tapi kematian tiada terbersit.
Pasrah saja sambil lidah kugigit.
Hidup memang bak hutan.
Misteri menggantung tak kelihatan.
Semak, duri, akar, binatang, jurang, hujan...
Ah, juga ada setan!
Duka ini selalu mengintai.
Tak sanggup lagi aku berandai.
Hanya menanti Tuhan membelai.
Setelah delapan jalan tercapai.
Apa daya rohaniku terlalu kurus.
Miskin ilmu tak terurus.
Pencobaan ini saja tak lulus.
Tanpa upaya, berdoa saja terus.
Duduk aku di ruang ini terdiam.
Menanti Mesias yang akan dirajam.
Sementara otakku makin kram.
Dosa sebagai orang awam.
Sakit, sakit.. Aku meringis.
Rasanya memang mau menangis.
Tapi yang keluar dari mulut cuma najis.
Akhirnya aku cuma menahan pipis.
Lalala... Aku menyanyi di dalam hati.
Menahan apa yang dinamakan sepi.
Tak mau aku dianggap tak berarti.
Aku harus punya mimpi!
Tapi, hei, sekarang aku ini hebat!
Aku bosan jadi orang melarat.
Lihat saja tekatku yang bulat.
Besok kubuat bulan jadi dua terkerat!
Hei, aku bukan lagi manusia murah.
Besok dunia yang akan tunduk di bawah.
Pencerahan akan bersinar mengarah.
Sakit yang akan kujajah atas nama Kasih dan Roh!
101010
This entry was posted on 23:49 and is filed under
2010 Poems
. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.




0 comments: